Kisah Alat Musik Tradisional Lampung Dalam Bentuk Tari

Rabu, April 19th 2017. | Berita

Bercerita tentang perjalanan suatu produk budaya tidak selalu harus dalam bentuk tulisan ataupun cerita. Para tokoh seni Lampung didukung penari dari sanggar seni Edukasia Program Studi Seni Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (Unila) menggelar tari kolosal “Gamolan Agung Sai Bumi Ruwa jurai” untuk berkisah tentang alat musik gamolan. Tari kolosal tersebut dipentaskan dalam pembukaan Diskusi Ilmiah, Pekan Olahraga dan Seni (Disporseni) Universitas Terbuka wilayah barat 2012 di lapangan Saburai Enggal Bandar Lampung, Kamis (6/9).

Tarian tersebut tidak sekedar bercerita tentang alat musik gamolan, namun juga bercerita tentang sejarah peradaban masyarakat Lampung dari jaman pra-sejarah hingga kini. Dalam tarian itu dikisahkan masyarakat Lampung di jaman dulu kala ketika alat musik sederhana dari bambu mereka gunakan sebagai alat pemersatu. Gamolan yang berarti berkumpul ini awalnya mirip dengan kentongan yang hanya memiliki satu nada. Namun alat musik sederhana ini memiliki peranan penting dalam masyarakat waktu itu, dimana untuk mengumpulkan warga, mereka memanfaatkan gamolan tersebut. “Gamolan ini sudah ada sejak abad 4 masehi, ada ornamennya terpahat di Candi Borobudur,” kata Gubernur Lampung Sjachroedin ZP.

Tarian tentang gamolan dan sejarah lampung ini dimulai tentang fragmen masyarakat pra-sejarah dan alat musik yang merupakan cikal bakal gamolan yang ada saat ini. Selanjutnya digambarkan kedangan masyarakat budha ke Lampung dengan menggunakan perahu-perahu. Para pendatang tersebut kemudian membentuk kerajaan di Lampung. Selanjutnya digambarkan bagaimana kedatangan pedagang muslim dari Samudera Pasai. Kedatangan orang-orang Samudera Pasai selanjutnya memicu peperangan dengan kerajaan Budha yang ada saat itu. Peperangan tersebut dimenangkan oleh orang-orang Islam, sehingga kerajaan yang ada di Lampung menganut agama Islam. Gamolan pun selanjutnya mengalami perubahan, terutama ketika kedatangan orang-orang China dan India ke Lampung. Gamolan yang tadinya hanya memiliki satu nada kemudian berkembang menjadi bernada do-re-mi-sol-la-si-do.

Pertunjukan tarian tersebut cukup unik dimana ketika fragmen tari dimainkan oleh lima atau enam penari, penari lain dengan kostum berbeda bersiap menggantikan mereka di pentas dengan fragmen yang berbeda. Penari yang selesai memainkan sebuah fragmen, langsung berganti kostum menyesuaikan cerita yang akan mereka mainkan selanjutnya. Tarian tersebut dimainkan sekitar 20 penari. Tari kolosal “Gamolan Agung Sai Bumi Ruwa jurai” ini, ide tarian dan naskahnya ditulis oleh Hasyimkan dan menggandeng Dian Anggraini sebagai koreografer.

Tarian tentang kisah gamolan tersebut berlangsung sekitar setengah jam. Tepuk tangan meriah dari penonton mengiringi selesainya pertunjukan inspiratif tersebut. Saat ini gamolan sudah diajarkan di sekolah-sekolah di Provinsi Lampung sebagai materi muatan lokal, sehingga keberadaannya dapat dijaga. (NW)-(Sumber: http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/630)